Selamat datang para petualang dunia mikrobilogi! Sekarang kita
masuk ke tahap praktikumnya yah. Aduhh,
takut. Jangan takut, mikroba juga makhluk hidup, punya rasa punya hati, eh.
Setiap praktikum mikrobiologi tidak akan lepas dari proses
sterilisasi. Apa itu sterilisasi? Biasanya satu hari sebelum ujian ruangan akan
disterilkan. Kalau ada kejahatan juga, TKP akan disterilkan. Kalau di
laboratorium, sterilisasi itu apa?
Sterilisasi adalah proses mematikan mikroba untuk
menciptakan kondisi yang aseptis. Berarti
ruang ujian dan TKP disterilkan maksudnya begitu toh. Ya jangan
disamakanlah, itu tadi Cuma contoh sterilisasi di kehidupan sehari-hari.
Sterilisasi bukan hanya dilakukan pada alat, sterilisasi
juga dilakukan pada bahan loh. Sterilisasi ada tiga macam. Sterilisasi mekanik,
sterilisasi fisika dan sterilisasi kimia. sterilisasi mekanik adalah
sterilisasi yang menggunakan saringan berpori yang sangat kecil sehingga
mikroba tertahan pada saringan tersebut. Sterilisasi fisik dilakukan dengan
proses penyinaran, pemanasan, pemijaran dan lain-lain. sterilisasi kimia
menggunakan bahan-bahan kimia untuk mematikan mikroorganisme. Kapan kita pakai sterilisasi mekanik, kapan
sterilisasi fisik, dan kapan sterilisasi kimia? tergantung alat yang akan
disterilkan. Contohnya, untuk benda yang tahan panas jangan menggunakan
sterilisasi fisik, gunakan sterilisasi kimia.
Gambar 01. Sterilisasi fisik menggunakan autoclave
Gambar 02. sterilisasi kimia menggunakan alkohol
Salah satu contoh alat sterilisasi fisik adalah autoclave. Alat-alat
yang tahan panas seperti Erlenmeyer, cawan petri, pipet ukur dan tabung reaksi
disterilkan menggunakan autoclave. Alat-alat tersebut tidak langsung dikasih
masuk. Lubang-lubang yang terdapat pada alat ditutup menggunakan kapas dan
aluminium foil kemudian dibungkus menggunakan kertas. Untuk cawan petri
langsung saja dibungkus menggunakan kertas setelah itu masukkan ke dalam
autoclave dan biarkan dia bekerja.
*menunggu 15 menit sambil main pokemon
Setelah alat-alat tersebut steril, barulah kita menggunakan
alat-alat tersebut untuk membuat media. Apa itu media? Media yang dimaksud
adalah media pertumbuhan mikroba. Mikroba dalam pertumbuhannya membutuhkan
nutrisi agar proses metabolismenya berjalan. Media pertumbuhan mikroba terbagi
tiga, media alami, media semi sintesis dan media sintesis. Media alami adalah
media yang terbentuk secara alami, seperti tanah, laut, dan lain-lain. media
semi sintesis adalah media yang terbuat dari campuran bahan alami dan bahan
kimia. media semi sintesis telah diketahui komposisinya, namun takarannya tidak
diketahui. media sintesis adalah media yang seratus persen terbuat dari bahan
kimia, sehingga komposisi dan takarannya diketahui secara pasti.
Gambar 03. Media Sintesis
(Sumber : Internet)
Kita tidak bisa membuat media alami, ya iyalah, kita bukan tuhan, tapi kita bisa membuat media semi
sintesis dan media sintesis. Yang paling mudah dibuat adalah media sintesis,
karena kita tinggal mencampurkan bubuk media dengan aquades. Mari kita bahas
media sintesis terlebih dahulu.
Media PDA (Potato Dextrose Agar)
Dari namanya kentara kan? Media ini
tersusun dari pati kentang, dextrose, dan agar. Media ini termasuk media padat
karena media ini mengandung agar. Agar apabila didinginkan akan memadat, itulah
kenapa media PDA tergolong media padat. Media PDA ini dapat menumbuhkan khamir
dan kapang.
Media PCA (Plate Count Agar)
Media ini mampu menumbuhkan mikroba apa
saja. Jadi jika kita ingin mengidentifikasi suatu mikroba pada suatu bahan dan
kita tidak tahu jenis mikrobanya, gunakan saja media PCA. Media PCA tersusun
atas kasein hidrolisat enzimatik, ekstrak khamir, dextrose, dan agar.
Media NA (Nutrient Agar)
Media NA (Nutrient Agar)
Media NA hanya dapat menumbuhkan bakteri. Media
NA tersusun dari intisari peptikum jaringan hewan, sodium klorida, ekstrak
khamir, ekstrak daging sapi, dan agar.
Kok, bisa tiap media berbeda yang bisa ditumbuhkan? Itu karena
masing-masing media memiliki komposisi yang berbeda. Masing-masing komposisi memiliki
fungsinya masing-masing dan komposisi itulah yang akan menentukan jenis mikroba
apa yang tumbuh nantinya. Contohnya, bakteri membutuhkan lingkungan yang kaya
akan nitrogen, sementara khamir dan kapang membutuhkan sumber karbon yang
banyak.
Lanjut ya? Lanjutt. Sekarang
kita beralih ke media semi sintesis. Contohnya media semi sintesis adalah
kentang agar dan tauge agar. Kentang agar berfungsi menumbuhkan kapang. Media ini
menggunakan ekstrak kentang sebagai sumber karbonnya. Jadi kentang dipotong
kecil-kecil kemudian diblender dan ekstraknya disaring. Ekstraknya nanti
dicampur dengan gula pasir, aquades dan agar. Eitss, jangan sembarang mencampur
ya, rasio tiap bahan sudah ditentukan loh. Nanti deh dikasih resepnya, eh.
Gambar 04. Media Kemtang Agar
(Sumber : Internet)
Gambar 05. Media tauge agar
(Sumber : Internet)
Selanjutnya ada tauge agar. Tauge agar berfungsi menumbuhkan
khamir dan kapang. Prosedurnya hampir sama kok dengan kentang agar, hanya saja
beda rasio. Beda bahan juga *bruh.
Oke, bagaimana? Bisa? Sebelum mulai, penulis mengingatkan
bahwa selama proses pembuatan media harus berlangsung dengan steril. Artinya diri
kita sebagai praktikan juga harus aseptis. Jangan lupa gunakan jas lab, sarung
tangan, dan masker. Terimakasih telah membacanya, arigatou gozaimasu!



















